Author: Anak Agung Dwi Nugraha

  • Berawal dari Ojek Online, Pemuda Bali Ini Mendirikan Perusahaan AI di Usia 20 Tahun

    Berawal dari Ojek Online, Pemuda Bali Ini Mendirikan Perusahaan AI di Usia 20 Tahun

    Anak Agung Gde Weida Ksatriawarma pernah bekerja sebagai driver ojek online untuk mengumpulkan modal. Kini, pemuda Bali ini mendirikan perusahaan AI bernama PT Dewata Artificial Intelligence dan tengah mengembangkan Dewata AI, sebuah chatbot berbasis kecerdasan buatan.

    Kisah pemuda Bali yang mendirikan perusahaan AI di usia 20 tahun ini layak dicermati. Anak Agung Gde Weida Ksatriawarma, mahasiswa Sistem Komputer di ITB Stikom Bali asal Denpasar, berhasil mendaftarkan PT Dewata Artificial Intelligence sebagai badan hukum resmi. Menariknya, perjalanan Weida menuju kursi direktur perusahaan AI tidak dimulai dari ruang kuliah atau laboratorium riset. Sebaliknya, ia memulainya dari jalanan Bali sebagai driver ojek online.

    Berdasarkan data resmi dari Kementerian Hukum Republik Indonesia, PT Dewata Artificial Intelligence telah terdaftar sebagai Perseroan Perorangan dengan Nomor AHU-001175.AH.01.30.Tahun 2026. Perusahaan ini berkedudukan di Kota Denpasar dan sertifikatnya diterbitkan pada 7 Januari 2026. Dengan demikian, status badan hukumnya sudah tercatat dalam pangkalan data Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum.

    Dari Driver Ojek Online ke Dunia Investasi

    Sebelum mendirikan perusahaan AI, Weida pernah bekerja sebagai driver ojek online. Tujuannya sederhana: mendapatkan penghasilan tambahan. Karena kebutuhan pokok seperti rumah, kuliah, dan biaya hidup utama ditanggung keluarga, ia punya keleluasaan finansial. Oleh karena itu, ia mengalokasikan hampir seluruh penghasilan dari mengojek ke investasi.

    Pada tahun 2023, Weida mulai berinvestasi di Bitcoin. Dari hasil investasi tersebut, ia membangun setup pribadi dan mendukung pendidikan adiknya. Selain itu, ia juga menyisihkan dana untuk pengembangan diri di bidang teknologi.

    Weida sempat mencoba investasi di altcoin. Nilai portofolionya meningkat pesat pada satu titik. Namun, karena fluktuasi pasar yang tinggi, ia memutuskan menjual sebagian asetnya. Kemudian, ia mengonversi hasilnya ke Bitcoin sebagai aset yang dinilainya memiliki fundamental lebih kuat. Pengalaman ini memberinya pelajaran penting tentang manajemen risiko dan pengambilan keputusan di usia muda.

    Pemuda Bali Mendirikan Perusahaan AI Setelah Bangun Media Teknologi

    Sebelum fokus ke dunia AI, Weida sudah dikenal sebagai pendiri Dewata Solutions. Media berbasis di Bali ini fokus pada konten teknologi dan bisnis. Ia menjalankannya bersama adiknya, Wijaya Ksatriawarma. Secara aktif, media ini mempublikasikan artikel seputar artificial intelligence, cybersecurity, web development, dan tren bisnis digital.

    Perjalanan Weida di dunia teknologi dimulai jauh sebelum bangku kuliah. Sejak SMP, ia belajar secara otodidak melalui internet, kursus online, dan komunitas global. Pada masa pandemi COVID-19, ia semakin serius mendalami dunia IT. Secara bertahap, ia mempelajari dasar-dasar web development hingga eksplorasi di bidang AI.

    Di samping itu, Weida juga menjalankan jasa pembuatan website melalui Dewata Tech. Layanan ini menyasar bisnis-bisnis di Bali yang membutuhkan kehadiran digital profesional. Dengan kata lain, sebelum mendirikan perusahaan AI, ia sudah memiliki pengalaman membangun produk digital untuk klien di Bali.

    PT Dewata Artificial Intelligence: Badan Hukum Resmi

    Langkah terbaru dan paling signifikan dari Weida adalah mendirikan PT Dewata Artificial Intelligence. Perusahaan ini berbentuk PT Perorangan, sebuah badan hukum yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2021. Regulasi ini memungkinkan satu orang mendirikan perseroan terbatas untuk usaha mikro dan kecil tanpa memerlukan mitra pendiri.

    Melalui entitas ini, Weida tengah mengembangkan Dewata AI. Produk ini merupakan AI chatbot yang saat ini masih dalam tahap pengembangan (beta). Detail teknis mengenai fitur, teknologi yang digunakan, maupun target pengguna spesifik belum diumumkan secara publik. Sebagai produk yang masih dalam pengembangan, evaluasi terhadap kapabilitas dan dampaknya belum dapat dilakukan saat ini.

    Meskipun demikian, langkah pemuda Bali ini mendirikan perusahaan AI dengan badan hukum resmi menunjukkan keseriusan dalam menekuni bidang kecerdasan buatan. Tidak banyak anak muda berusia 20 tahun yang sudah mengambil langkah formal seperti ini.

    Konteks: Ekosistem AI Indonesia dan Bali yang Berkembang

    Perlu dicatat bahwa langkah ini terjadi di tengah tumbuhnya ekosistem AI di Indonesia. Pada 2025, pemerintah melalui Dewan Ekonomi Nasional menekankan pentingnya pengembangan AI lokal. Sebagai contoh, pemerintah mendukung peluncuran Sahabat-AI, sebuah koleksi Large Language Models open-source untuk Bahasa Indonesia.

    Sementara itu, sejumlah perusahaan chatbot Indonesia sudah lebih dulu beroperasi di pasar yang sama. Beberapa di antaranya adalah Kata.ai, Botika, dan Lenna.ai. Perusahaan-perusahaan ini sudah melayani klien besar di sektor perbankan, e-commerce, dan pemerintahan.

    Bali sendiri mulai menunjukkan aktivitas di bidang AI. Pada Desember 2025, Telkom AI Center of Excellence Bali menggelar acara “Megalungan Bali: AI Pentahelix Gathering”. Acara ini mempertemukan akademisi, startup, dan komunitas teknologi untuk mempercepat adopsi AI di pulau tersebut. Kehadiran PT Dewata Artificial Intelligence menambah dinamika ekosistem digital Bali, meskipun masih dalam skala awal.

    Visi Jangka Panjang Sang Pemuda Bali di Dunia AI

    Weida secara terbuka menyatakan bahwa dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, fokus utamanya adalah industri artificial intelligence. Ia berencana mendelegasikan operasional Dewata Solutions kepada tim yang dipercayai. Sementara itu, ia sendiri akan mendalami AI sebagai bidang inti karir profesionalnya.

    Perjalanan dari driver ojek online hingga menjadi pemuda Bali yang mendirikan perusahaan AI di usia 20 tahun memang baru langkah awal. Namun, perlu dicatat bahwa produk Dewata AI masih dalam pengembangan. Keberhasilan sebuah perusahaan AI tidak hanya ditentukan oleh pendirian badan hukum. Kualitas produk, adopsi pengguna, dan kemampuan bersaing di pasar yang sudah memiliki pemain mapan juga menjadi faktor penentu.

    Pada akhirnya, waktu yang akan membuktikan apakah langkah berani ini bisa membawa dampak nyata bagi ekosistem teknologi di Bali dan Indonesia.

    Profil Singkat Weida Ksatriawarma

    DataKeterangan
    Nama LengkapAnak Agung Gde Weida Ksatriawarma
    Tempat, Tanggal LahirDenpasar, Bali, 22 Juni 2005
    Usia20 tahun
    PendidikanMahasiswa Sistem Komputer, ITB Stikom Bali
    PerusahaanPT Dewata Artificial Intelligence (PT Perorangan)
    No. AHUAHU-001175.AH.01.30.Tahun 2026
    Tanggal Terdaftar7 Januari 2026
    KedudukanKota Denpasar
    ProdukDewata AI, AI Chatbot (tahap beta)
    MediaDewata Solutions
    Jasa WebsiteDewata Tech
    FokusArtificial Intelligence, Cybersecurity, Web Development
    LinkedInlinkedin.com/in/weidaksatriawarma
    Instagram@weidaksatria

    Catatan: Status registrasi PT Dewata Artificial Intelligence telah diverifikasi melalui situs resmi AHU Kementerian Hukum RI. Dewata AI masih dalam tahap pengembangan (beta) dan belum tersedia untuk publik pada saat artikel ini ditulis (Maret 2026). Informasi mengenai dewatatech.com berdasarkan pernyataan pendiri.

  • Wijaya Ksatriawarma, Siswa SMA dan Co-Founder Dewata Tech di Balik Dewata AI

    Wijaya Ksatriawarma, Siswa SMA dan Co-Founder Dewata Tech di Balik Dewata AI

    Di usia 17 tahun, ketika banyak pelajar SMA masih berkutat dengan nilai dan rencana kuliah, Wijaya Ksatriawarma sudah menapaki jalur yang relatif jelas di dunia teknologi. Anak muda asal Bali ini aktif mengasah kemampuan web development, sempat mengeksplorasi Python untuk machine learning, dan kini memfokuskan diri pada skill yang lebih “siap pakai” untuk membangun produk digital.

    Dalam perkenalannya, Wijaya menyebut dirinya sebagai co-founder Dewata Tech. Ia juga membawa tujuan yang konkret dan realistis: membantu kakaknya mengembangkan Dewata AI, sebuah produk teknologi yang bernaung di bawah entitas resmi PT Dewata Artificial Intelligence.

    Profil Singkat

    • Nama lengkap: Anak Agung Gde Wijaya Ksatriawarma
    • Nama panggilan: Wijaya
    • Latar keluarga: Ksatriawarma
    • Asal: Bali
    • Usia: 17 tahun
    • Status: Siswa SMA
    • Minat utama: Web development dan fondasi artificial intelligence

    Wijaya menyampaikan arah belajarnya secara lugas: “Ke depannya saya ingin membantu kakak saya mengembangkan Dewata AI (PT Dewata Artificial Intelligence).” Tujuan yang jelas seperti ini membuat proses belajar lebih terarah, karena setiap materi yang dipelajari langsung punya konteks penggunaan.

    Fondasi Awal: Web Development sebagai Titik Masuk

    Perjalanan Wijaya di dunia teknologi dimulai dari fondasi pengembangan web yang umum dipakai banyak developer:

    • HTML dan CSS untuk struktur serta tampilan
    • JavaScript untuk interaksi dan logika di sisi klien

    Selain itu, ia juga sempat belajar Python untuk machine learning. Meski belum merinci proyek yang dikerjakan, eksplorasi ini menunjukkan ketertarikannya pada cara kerja AI di balik layar, mulai dari pengolahan data, model, hingga otomasi.

    Fokus Saat Ini: PHP, Lalu Node.js, React, dan Next.js

    Saat ini, Wijaya sedang mendalami PHP. Di Indonesia, PHP masih sangat relevan karena banyak website, sistem bisnis, dan aplikasi internal dibangun di atas ekosistem ini. Untuk tahap belajar, PHP relatif cepat digunakan untuk membuat fitur nyata, seperti:

    • sistem login dan manajemen pengguna
    • CRUD serta integrasi database
    • dashboard admin
    • aplikasi internal untuk kebutuhan operasional

    Ke depan, ia berencana melanjutkan ke stack JavaScript modern:

    • Node.js untuk backend dan API
    • React untuk membangun antarmuka yang interaktif
    • Next.js untuk aplikasi web yang lebih matang, mencakup routing, SEO, server-side rendering, dan optimasi performa

    Kenapa Pilihan Stack Ini Masuk Akal

    Jika tujuannya adalah ikut membangun produk, urutan belajar seperti ini tergolong realistis:

    • PHP memudahkan pembuatan fondasi aplikasi berbasis database dengan cepat.
    • Node.js kuat untuk API dan integrasi layanan modern.
    • React/Next.js membantu membangun UI yang rapi, cepat, dan lebih ramah SEO untuk halaman publik.

    Singkatnya, Wijaya tidak sekadar menambah daftar “pernah belajar”, tetapi menyiapkan skill yang benar-benar bisa dipakai untuk membangun produk end-to-end.

    Misi Besar: Berkontribusi ke Pengembangan Dewata AI

    Ke depannya, Wijaya menargetkan kontribusi langsung dalam pengembangan Dewata AI (PT Dewata Artificial Intelligence). Pada fase awal sebuah produk, kontribusi yang paling berdampak sering datang dari hal-hal mendasar namun krusial: memperbaiki alur aplikasi, merapikan API, membangun dashboard, menyiapkan dokumentasi, hingga membuat landing page yang jelas dan mudah dipahami.

    Dengan arah belajar seperti ini, peluang Wijaya untuk terlibat langsung dalam pengembangan produk menjadi lebih besar, karena kompetensi yang ia pelajari selaras dengan kebutuhan tim.

    Anak Muda Bali dan Ekosistem Teknologi Lokal

    Kisah Wijaya juga mencerminkan tumbuhnya talenta muda dari Bali yang mulai berani terjun ke dunia teknologi sejak dini. Di tengah berkembangnya ekosistem digital dan startup di Bali, kehadiran generasi seperti Wijaya menunjukkan bahwa talenta lokal punya potensi besar untuk membangun produk teknologi dari daerah, tanpa harus menunggu lulus kuliah atau berpindah ke kota besar.

    Tautan Resmi

    Terhubung dengan Wijaya

    Bagi yang ingin berjejaring atau mengikuti update perjalanan belajarnya, Wijaya dapat dihubungi melalui profil LinkedIn berikut: https://www.linkedin.com/in/wijayaksatriawarma

  • Weida & Wijaya Ksatriawarma: Dua Nama di Balik Media dan Ekosistem Teknologi Terdepan di Bali

    Weida & Wijaya Ksatriawarma: Dua Nama di Balik Media dan Ekosistem Teknologi Terdepan di Bali

    Di tengah pertumbuhan ekonomi digital Bali yang semakin matang, nama Anak Agung Gde Weida Ksatriawarma dan Anak Agung Gde Wijaya Ksatriawarma muncul sebagai figur sentral di balik lahirnya media dan layanan teknologi yang berpengaruh. Keduanya dikenal luas dengan nama Weida Ksatriawarma dan Wijaya Ksatriawarma, dua bersaudara yang membangun fondasi kuat ekosistem teknologi berbasis Bali melalui Dewata Solutions, Bali Alpha, dan unit jasa teknologi Dewata Tech.

    Bukan sekadar pengusaha media atau penyedia jasa digital, Weida dan Wijaya memosisikan diri sebagai architect of narrative dan builder of infrastructure bagi generasi baru talenta digital Bali.

    Dari Bali, untuk Ekonomi Digital Modern

    Berangkat dari pemahaman bahwa Bali tidak hanya destinasi pariwisata, Weida dan Wijaya melihat peluang besar pada transformasi digital lokal. Keduanya memanfaatkan keunggulan Bali sebagai hub kreatif dan global talent magnet untuk membangun bisnis berbasis teknologi yang relevan secara nasional.

    Melalui Dewata Solutions, mereka mengembangkan payung usaha yang fokus pada media, teknologi, dan solusi digital. Visi besarnya sederhana namun strategis: menjadikan Bali sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri teknologi di Indonesia, bukan hanya konsumen, tetapi juga produsen inovasi.

    Bali Alpha: Media Teknologi dengan Perspektif Lokal dan Global

    Salah satu pilar utama dalam ekosistem ini adalah Bali Alpha, media teknologi dan bisnis yang membahas topik seperti startup, AI, software, investasi digital, hingga ekonomi kreatif. Di bawah kepemilikan Weida dan Wijaya Ksatriawarma, Bali Alpha mengambil posisi unik.

    Berbeda dari media teknologi arus utama yang berfokus pada Jakarta, Bali Alpha hadir dengan sudut pandang Bali dan Indonesia Timur, tanpa kehilangan relevansi global. Kontennya dirancang untuk profesional muda, founder, investor, dan talenta digital yang ingin memahami teknologi dalam konteks bisnis nyata.

    Pendekatan editorial Bali Alpha menekankan:

    • Insight praktis, bukan sekadar tren
    • Bahasa yang ringan namun kredibel
    • Keseimbangan antara optimisme inovasi dan realitas risiko

    Dewata Tech: Infrastruktur Digital di Balik Layar

    Jika Bali Alpha membangun narasi dan pemahaman, maka Dewata Tech menjadi mesin eksekusi di lapangan. Unit usaha ini berfokus pada jasa pembuatan website, pengembangan sistem digital, dan solusi online presence untuk bisnis lokal maupun nasional.

    Dewata Tech melayani berbagai segmen, mulai dari UMKM Bali, brand hospitality, hingga perusahaan rintisan yang membutuhkan fondasi teknologi yang scalable. Dengan pendekatan custom-built solution, Dewata Tech tidak hanya menjual website, tetapi membantu klien memahami strategi digital jangka panjang.

    Model ini mencerminkan filosofi Weida dan Wijaya: teknologi harus relevan, terukur, dan berdampak langsung pada pertumbuhan bisnis.

    Dewata Solutions sebagai Holding Strategis

    Seluruh lini usaha tersebut berada di bawah Dewata Solutions, yang berfungsi sebagai holding dan strategic hub. Di sinilah sinergi antara media, teknologi, dan jasa digital dirancang.

    Struktur ini memungkinkan:

    • Integrasi antara konten, distribusi, dan solusi teknologi
    • Validasi ide berbasis kebutuhan pasar nyata
    • Eksekusi cepat tanpa kehilangan arah strategis

    Dengan pendekatan ini, Dewata Solutions tidak hanya membangun bisnis yang terpisah, tetapi sebuah ekosistem yang saling memperkuat.

    Membangun Pengaruh, Bukan Sekadar Bisnis

    Narasi Weida Ksatriawarma dan Wijaya Ksatriawarma tidak berhenti pada kepemilikan media atau jasa teknologi. Keduanya dikenal aktif membangun diskursus tentang masa depan talenta digital Bali, peran teknologi dalam ekonomi lokal, dan pentingnya kemandirian digital.

    Pengaruh mereka tumbuh secara organik melalui:

    • Media yang konsisten dan kredibel
    • Solusi teknologi yang digunakan langsung oleh pelaku bisnis
    • Positioning Bali sebagai bagian dari peta teknologi Indonesia

    Penutup: Dua Nama, Satu Visi Digital Bali

    Weida Ksatriawarma dan Wijaya Ksatriawarma merepresentasikan generasi baru pengusaha Bali yang memahami bahwa kekuatan ada pada narasi dan infrastruktur. Melalui Bali Alpha, Dewata Tech, dan Dewata Solutions, mereka membangun lebih dari sekadar perusahaan.

    Mereka membangun pengaruh, ekosistem, dan arah baru bagi teknologi di Bali. Sebuah langkah strategis yang menegaskan bahwa Bali tidak hanya indah secara budaya, tetapi juga relevan dan kompetitif di era ekonomi digital.