Tag: ITB STIKOM Bali

  • Dagangku AI Lolos Pendanaan P2MW 2026, Startup AI Pembukuan UMKM Rintisan Tim STIKOM Bali

    Dagangku AI Lolos Pendanaan P2MW 2026, Startup AI Pembukuan UMKM Rintisan Tim STIKOM Bali

    Dagangku AI, aplikasi pencatatan keuangan berbasis chat AI untuk UMKM, resmi dinyatakan lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 pada kategori Bisnis Digital Tahapan Awal. Produk ini dikembangkan oleh tim mahasiswa yang bernaung di bawah PT Dewata Artificial Intelligence, startup AI asal Bali, bersama pendampingan dari STIKOM Bali, dan kini memasuki fase pelaksanaan program yang berlangsung hingga akhir Oktober 2026.

    P2MW sendiri merupakan program pembinaan wirausaha mahasiswa yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Setiap tahun, program ini menyalurkan dana hibah kompetitif kepada tim mahasiswa yang memiliki rintisan usaha dengan potensi pasar dan dampak sosial yang jelas. Lolosnya Dagangku AI menempatkan produk ini sebagai satu dari sejumlah usaha rintisan digital yang mendapat kepercayaan pendanaan negara untuk tumbuh lebih jauh.

    Apa Itu Dagangku AI

    Dagangku AI adalah aplikasi pembukuan untuk pelaku UMKM yang bekerja lewat percakapan berbahasa sehari-hari. Alih-alih mengisi formulir keuangan yang panjang, pengguna cukup mengetik kalimat seperti “tadi laku 45 nasi goreng total 1 juta” dan sistem AI di baliknya akan mengekstrak data tersebut secara otomatis ke dalam pencatatan penjualan, pengeluaran, dan laba.

    Layanan ini sudah berjalan dalam versi beta dan bisa langsung dicoba di dagangkuai.com, lengkap dengan dashboard real-time untuk memantau kondisi keuangan usaha serta fitur ekspor laporan dalam format PDF yang dirancang untuk membantu pelaku UMKM mengajukan akses permodalan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Saat ini tim Dagangku AI juga tengah mengembangkan integrasi dengan WhatsApp dan Telegram sebagai kanal tambahan di luar web, di samping sejumlah fitur lain yang masih dalam proses pengembangan. Seluruh antarmuka disesuaikan dengan konteks lokal, mulai dari format Rupiah, zona waktu WIB, WITA, dan WIT, hingga gaya bahasa yang dipakai pedagang sehari-hari.

    Pendekatan ini membedakan Dagangku AI dari aplikasi pembukuan UMKM yang sudah lebih dulu ada di pasar, yang umumnya masih mengandalkan input manual lewat form. Dengan mengganti form panjang menjadi obrolan singkat, Dagangku AI berupaya menurunkan hambatan utama yang selama ini membuat banyak pelaku UMKM enggan mencatat keuangan usahanya secara rutin.

    Kategori Bisnis Digital Tahapan Awal di P2MW 2026

    Dalam struktur penilaian P2MW 2026, Dagangku AI masuk kategori Bisnis Digital pada Tahapan Awal, yaitu klasifikasi untuk usaha yang berjalan kurang dari enam bulan, belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), namun sudah menunjukkan validasi problem-solution fit serta proyeksi keuangan yang terukur. Penilaian proposal mencakup tujuh komponen, mulai dari latar belakang usaha, noble purpose atau dampak sosial, ukuran dan karakteristik konsumen potensial, keunikan produk, strategi pemasaran, sumber daya, hingga kesiapan keuangan dan model monetisasi.

    Karena statusnya masih Tahapan Awal, Dagangku AI sebagai unit usaha turut diwajibkan mengurus legalitas usaha minimal berupa NIB selama masa pelaksanaan program, sejalan dengan salah satu dari tiga luaran wajib P2MW: produk yang teruji di pasar, akun media sosial usaha yang aktif, dan legalitas usaha. Ini berarti meski berada di bawah payung PT Dewata Artificial Intelligence, Dagangku AI sebagai lini bisnis tersendiri tengah melalui proses formalisasi sesuai ketentuan program.

    Fase pelaksanaan dan pelaporan P2MW 2026 berjalan sejak akhir Mei hingga 26 Oktober 2026, dengan sejumlah tenggat penting seperti bimbingan teknis sistem, pelaporan kemajuan, penilaian kemajuan, ajang KMI Expo, hingga pelaporan akhir. Setiap tim penerima dana wajib didampingi dosen pembimbing dan melaporkan perkembangan usahanya secara berkala melalui Sistem Informasi Manajemen P2MW.

    Tim di Balik Dagangku AI

    Dagangku AI dikembangkan oleh tim yang berafiliasi dengan PT Dewata Artificial Intelligence, startup AI asal Bali yang sebelumnya juga dikenal lewat produk Dewata AI dan berbagai inisiatif ekosistem teknologi lokal. Keterlibatan mahasiswa STIKOM Bali dalam Dagangku AI meneruskan jejak tim kampus yang sama dalam ajang kompetisi, termasuk pencapaian Tim Subak Code ITB STIKOM Bali yang meraih Juara 2 pada PROXOCORIS International Competition 2026.

    Pola ini menegaskan posisi STIKOM Bali sebagai salah satu kampus yang aktif mendorong lahirnya wirausaha digital dari kalangan mahasiswanya, sekaligus memperkuat gambaran bahwa ekosistem startup di Bali tidak hanya digerakkan oleh pelaku industri berpengalaman, tetapi juga oleh generasi muda yang membangun produk sejak masih berstatus mahasiswa.

    Kenapa Pembukuan Digital Penting bagi UMKM

    Minimnya pencatatan keuangan yang rapi masih menjadi salah satu kendala klasik UMKM di Indonesia, termasuk di Bali yang sebagian besar unit usahanya berskala mikro dan kecil. Tanpa laporan keuangan yang terstruktur, pelaku usaha kerap kesulitan mengakses pembiayaan formal seperti KUR karena tidak bisa menunjukkan riwayat arus kas maupun laba rugi kepada lembaga keuangan.

    Dengan menempatkan laporan keuangan siap pakai sebagai salah satu fitur utamanya, Dagangku AI menyasar persoalan yang secara langsung berkaitan dengan akses permodalan, bukan sekadar pencatatan administratif semata. Pendekatan berbasis dampak ekonomi seperti ini sejalan dengan salah satu komponen penilaian P2MW, yaitu noble purpose, yang menilai sejauh mana sebuah usaha rintisan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya potensi komersialnya.

    Peta Persaingan Aplikasi Pembukuan UMKM

    Dagangku AI tidak bergerak di pasar yang kosong. Aplikasi pembukuan digital untuk UMKM di Indonesia sudah lebih dulu diisi oleh nama-nama seperti BukuWarung dan BukuKas, dua pemain yang sempat menghimpun basis pengguna besar berkat model pencatatan sederhana lewat form. Namun pasar ini juga menyimpan pelajaran penting: BukuKas, yang beroperasi di bawah Lummo, dilaporkan menghentikan operasinya pada 2023 setelah kesulitan memonetisasi basis pengguna gratis yang sangat besar, sebuah kasus yang kerap dijadikan rujukan soal sulitnya mengubah pengguna pembukuan gratis menjadi pelanggan berbayar.

    Selain pemain digital native, sebagian pelaku UMKM masih bertahan dengan pencatatan manual di buku fisik atau spreadsheet Excel, yang justru menjadi pesaing tidak langsung paling umum di lapangan. Dalam konteks ini, diferensiasi Dagangku AI terletak pada metode input berbasis chat berbahasa sehari-hari, dibandingkan form terstruktur yang selama ini menjadi standar aplikasi sejenis, ditambah lokalisasi mendalam pada format Rupiah, zona waktu Indonesia, dan gaya bahasa pedagang lokal.

    Yang membedakan pendekatan Dagangku AI dari pendahulunya bukan sekadar fitur chat AI, karena teknologi serupa relatif mudah direplikasi pemain lain. Faktor pembeda yang lebih tahan lama justru pada bagaimana laporan keuangan yang dihasilkan dirancang untuk keperluan pengajuan KUR dan kebutuhan formal lain, sehingga produk ini terhubung langsung dengan hasil ekonomi nyata bagi penggunanya, bukan sekadar fitur pelengkap.

    Dukungan Ekosistem Teknologi Bali terhadap Startup Mahasiswa

    Lolosnya Dagangku AI turut menambah daftar panjang inisiatif digital yang lahir dari lingkup Bali, sebuah wilayah yang selama ini identik dengan pariwisata namun perlahan membangun reputasi baru sebagai simpul teknologi. Dukungan terhadap ekosistem ini juga datang dari sejumlah pelaku industri lokal, termasuk perusahaan pengembang perangkat lunak seperti Dewata Tech yang banyak membangun solusi aplikasi serupa untuk kebutuhan UMKM dan bisnis digital.

    Keterkaitan antara kampus, komunitas teknologi, dan pelaku industri semacam ini memperlihatkan pola yang mulai terbentuk di Bali, yaitu munculnya siklus dukungan antara pendidikan tinggi dan dunia usaha digital. Mahasiswa yang membangun produk melalui program seperti P2MW mendapat jalur pembinaan yang jelas, sementara perusahaan teknologi lokal turut memperkuat ekosistem tempat produk tersebut nantinya bersaing dan berkembang, seperti yang juga dibahas dalam ulasan perkembangan bisnis digital di Bali.

    Tahapan Selanjutnya bagi Dagangku AI

    Sebagai penerima pendanaan P2MW 2026, langkah berikutnya bagi tim Dagangku AI adalah memenuhi seluruh kewajiban pelaksanaan program, termasuk penyerapan anggaran sesuai batas kategori yang ditentukan, pelaporan kemajuan usaha secara berkala, dan pemenuhan tiga luaran wajib sebelum tenggat pelaporan akhir di akhir Oktober 2026. Keberhasilan memenuhi tahapan ini akan menentukan apakah Dagangku AI dapat melaju ke ajang KMI Expo, ajang puncak yang mempertemukan seluruh tim penerima dana P2MW se-Indonesia.

    Bagi pelaku UMKM di Bali dan daerah lain, kehadiran Dagangku AI menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi AI mulai dirancang secara spesifik untuk menjawab kebutuhan pencatatan keuangan yang selama ini dianggap merepotkan. Pembaca yang penasaran bisa langsung mencoba versi beta di dagangkuai.com sembari mengikuti perkembangan integrasi WhatsApp dan Telegram yang sedang disiapkan tim. Jika berhasil melewati fase pelaksanaan dengan baik, produk ini berpotensi menjadi salah satu rujukan digitalisasi pembukuan UMKM yang lahir langsung dari kampus di Bali.

    Kesimpulan

    Dagangku AI resmi lolos pendanaan P2MW 2026 pada kategori Bisnis Digital Tahapan Awal, memperkuat posisi tim mahasiswa STIKOM Bali di bawah PT Dewata Artificial Intelligence, startup AI asal Bali, sebagai salah satu pelaku baru dalam ekosistem startup teknologi Bali. Dengan fokus pada pencatatan keuangan berbasis chat AI untuk UMKM, produk ini kini memasuki fase pelaksanaan hingga Oktober 2026, dengan kewajiban memenuhi legalitas usaha, penyerapan anggaran, dan pelaporan berkala sebagai syarat keberlanjutan pendanaan. Perkembangan Dagangku AI selanjutnya, termasuk rencana integrasi WhatsApp dan Telegram, akan menjadi salah satu yang layak diikuti dalam pemetaan startup digital yang tumbuh dari lingkungan kampus di Bali.

  • Tim Subak Code ITB STIKOM Bali Raih Juara 2 PROXOCORIS International Competition 2026

    Tim Subak Code ITB STIKOM Bali Raih Juara 2 PROXOCORIS International Competition 2026

    Tim Subak Code dari ITB STIKOM Bali berhasil meraih Juara 2 kategori Web Development di ajang PROXOCORIS International Competition 2026 yang diumumkan pada Kamis, 16 April 2026. Kemenangan ini diraih lewat aplikasi Subak Hijau, sebuah konsultan keberlanjutan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Ajang yang diselenggarakan oleh Universitas Klabat ini mempertemukan peserta nasional maupun internasional di bawah tema besar “Bridging Gaps: Code for Earth, Intelligence for Justice, and Sustainability for Shaping Tomorrow”.

    Kompetisi Internasional yang Menjembatani Teknologi dan Keberlanjutan

    PROXOCORIS International Competition 2026 adalah kompetisi teknologi berskala internasional yang digelar oleh Fakultas Ilmu Komputer Universitas Klabat (UNKLAB) di Airmadidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Kompetisi ini membuka enam kategori berbeda, yaitu Business Plan, Business Case, Mobile App Development, UI/UX Design, Short Movie, dan Web Development. Tim Subak Code berkompetisi di kategori terakhir yang fokus pada pengembangan aplikasi web berbasis solusi nyata.

    Tema kompetisi tahun ini menekankan tiga pilar yang saling terhubung, yaitu teknologi untuk bumi, kecerdasan untuk keadilan, serta keberlanjutan sebagai pembentuk masa depan. Peserta diwajibkan memilih satu dari enam subtema, mulai dari AI for Climate Justice and Social Resilience, Smart Inclusive and Sustainable Cities, Green Technology for All, Digital Equality and Environmental Preservation, Community Empowerment and Climate Education, hingga AI for Governance, Transparency, and Sustainable Justice.

    Proses penilaian PROXOCORIS dibagi menjadi dua tahap independen yang masing-masing berbobot 100 persen. Tahap pertama adalah penilaian submission berupa proposal, repositori GitHub, dan video demo. Tahap kedua adalah sesi pitching selama 20 menit yang terdiri dari 10 menit presentasi dan 10 menit sesi tanya jawab. Pada tahap pitching, bobot terbesar ada di demonstrasi live website sebesar 30 persen, diikuti oleh presentasi dan komunikasi serta relevansi dan dampak yang masing-masing 25 persen, lalu UI/UX design sebesar 20 persen.

    Subak Hijau, Konsultan Keberlanjutan Berbasis AI untuk UMKM Indonesia

    Aplikasi yang diusung Tim Subak Code adalah Subak Hijau, platform web yang dapat diakses di subakhijau.app. Produk ini hadir untuk menjawab gap yang konkret di lapangan. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, Indonesia memiliki lebih dari 64 juta pelaku UMKM, namun akses terhadap panduan keberlanjutan praktis masih sangat terbatas bagi mayoritas pelaku. Layanan konsultan keberlanjutan tradisional umumnya dirancang untuk korporasi besar, bukan untuk warung kecil, rumah roti, atau usaha keluarga.

    Subak Hijau memposisikan diri sebagai alternatif yang bisa diakses siapa saja. Pengguna cukup mendaftar dengan email, mengisi profil bisnis, dan aplikasi akan menghasilkan skor keberlanjutan beserta peta jalan perbaikan dalam hitungan menit. Pendekatan ini sejalan dengan subtema Green Technology for All yang menekankan inovasi ramah lingkungan yang inklusif dan memperkuat ekonomi masyarakat.

    Fitur Inti yang Mengangkat Aplikasi Subak Hijau

    Subak Hijau menawarkan empat fitur utama yang dirancang saling terhubung dalam satu alur pengalaman pengguna. Fitur pertama adalah AI Chat Consultant yang memungkinkan pelaku UMKM mengajukan pertanyaan seputar keberlanjutan dalam Bahasa Indonesia dan mendapat jawaban praktis dalam hitungan detik. Kekuatan fitur ini terletak pada konteks lokalnya, karena AI dilatih untuk memahami karakteristik bisnis kecil di Indonesia, bukan korporasi multinasional.

    Fitur kedua adalah Sustainability Score, sebuah sistem penilaian berskala 0 sampai 100 yang dipecah menjadi lima kategori, yaitu operations, energy, waste, supply chain, dan policy. Skor ini memberikan gambaran cepat tentang posisi bisnis saat ini, sekaligus menunjukkan area mana yang paling lemah dan butuh perbaikan prioritas.

    Roadmap dan Progress Tracking yang Actionable

    Fitur ketiga adalah AI Roadmap Generator yang menerjemahkan skor keberlanjutan menjadi rencana aksi personal. Roadmap berisi langkah-langkah konkret disertai estimasi waktu pengerjaan, sehingga pelaku UMKM tidak hanya tahu harus memperbaiki apa, tapi juga tahu bagaimana memulainya. Fitur keempat adalah Progress Tracking yang berfungsi sebagai dashboard untuk mencatat aksi yang sudah dijalankan sekaligus melihat perubahan skor seiring waktu. Keempat fitur ini bekerja sebagai satu alur terpadu, bukan tools yang berdiri sendiri-sendiri.

    Arsitektur Teknologi di Balik Subak Hijau

    Dari sisi teknis, Subak Hijau dibangun dengan kombinasi teknologi modern yang banyak dipakai ekosistem startup global. Frontend menggunakan Next.js berpadu Tailwind CSS untuk antarmuka yang responsif, sedangkan backend mengandalkan Supabase yang berbasis PostgreSQL dengan implementasi Row Level Security (RLS) untuk menjaga isolasi data antar pengguna. Komponen AI-nya dibangun menggunakan Vercel AI SDK yang memungkinkan respon secara real-time.

    Pilihan stack ini bukan sekadar keputusan teknis semata. Infrastruktur cloud modern memungkinkan tim kecil memulai produk tanpa perlu mengelola server sendiri, sementara skalabilitasnya tetap tinggi ketika produk mulai tumbuh. Pendekatan serverless dan managed database seperti Supabase cocok untuk tim yang ingin fokus pada produk ketimbang operasional infrastruktur, apalagi ketika bekerja dalam timeline kompetisi yang ketat seperti PROXOCORIS yang hanya memberi waktu beberapa minggu sejak pengumpulan proposal hingga sesi pitching final.

    Dari sisi kepatuhan, Subak Hijau mengklaim alignment dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang berlaku di Indonesia, serta tiga Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB yaitu SDG 7 (Affordable and Clean Energy), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), dan SDG 13 (Climate Action). Posisi ini memperkuat narasi bahwa produk tidak hanya berfungsi secara teknis, tapi juga selaras dengan kerangka regulasi dan standar global yang berlaku.

    Filosofi Subak sebagai Landasan Nama dan Konsep

    Nama Subak Hijau bukan pilihan sembarangan. Subak adalah sistem irigasi tradisional Bali yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia sejak tahun 2012. Sistem ini menjadi bukti bahwa masyarakat Bali sudah lama mempraktikkan prinsip pengelolaan sumber daya secara kolektif dan berkelanjutan, jauh sebelum istilah sustainability populer di percakapan global.

    Tim Subak Code memakai nama ini untuk menegaskan bahwa keberlanjutan bukan konsep asing yang diimpor dari luar. Indonesia, khususnya Bali, memiliki warisan nilai yang kuat tentang harmoni antara manusia, alam, dan teknologi. Filosofi Tri Hita Karana yang melandasi Subak berfokus pada tiga relasi harmonis, yaitu antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam. Nilai ini diterjemahkan menjadi produk digital yang membantu pelaku usaha menjalankan bisnis tanpa mengabaikan dampak terhadap lingkungan.

    Pendekatan semacam ini menjadi pembeda di tengah kompetisi. Banyak solusi keberlanjutan global cenderung abstrak dan terasa jauh dari pengalaman sehari-hari pelaku UMKM Indonesia. Dengan menghadirkan konteks kultural lokal, Subak Hijau berpeluang lebih mudah diterima oleh target penggunanya.

    Profil Tim Subak Code dari ITB STIKOM Bali

    Tim Subak Code beranggotakan tiga orang yang semuanya mahasiswa ITB STIKOM Bali. Ketua tim adalah Anak Agung Gde Weida Ksatriawarma yang aktif di ekosistem tech Bali dan dikenal membagikan perspektif tentang pengembangan produk digital berbasis konteks lokal. Weida memimpin arah produk dan strategi teknis tim. Anggota kedua adalah Arya Ngurah Intaran, dan anggota ketiga adalah Isa Rohmadan. Ketiganya bekerja sama mulai dari tahap ideation, pengembangan produk, penyusunan proposal, produksi video demo, hingga sesi pitching final di hadapan juri internasional.

    Partisipasi ITB STIKOM Bali di kompetisi internasional semacam ini menambah rekam jejak kampus tersebut sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi di bidang teknologi yang aktif di kancah nasional maupun internasional. ITB STIKOM Bali juga tercatat sebagai salah satu partner institusi pendidikan PROXOCORIS 2026, berdampingan dengan sejumlah kampus lain seperti BINUS University, Universitas Bumigora, STMIK Pontianak, dan beberapa kampus dari grup AMIKOM.

    Dampak dan Jalur Pengembangan ke Depan

    Dampak yang ditawarkan Subak Hijau cukup lugas jika melihat positioning-nya. Pertama, waktu konsultasi keberlanjutan yang biasanya memakan berminggu-minggu dipangkas menjadi sekitar 10 menit interaksi dengan platform. Kedua, akses yang sebelumnya eksklusif untuk korporasi besar kini terbuka lebar untuk pelaku UMKM di berbagai skala. Ketiga, karena berbasis web dan tidak memerlukan instalasi, adopsi bisa berjalan cepat tanpa hambatan teknis berat di sisi pengguna.

    Kesimpulan

    Capaian Tim Subak Code di PROXOCORIS International Competition 2026 menunjukkan dua hal penting. Pertama, ekosistem teknologi di Bali terus bertumbuh dengan talenta muda yang tidak hanya mampu secara teknis, tapi juga cerdas membaca konteks budaya dan kebutuhan pasar lokal. Kedua, kombinasi antara AI, desain produk yang berfokus pada pengguna, dan narasi berbasis nilai lokal bisa menjadi formula yang efektif di kompetisi internasional.

    Capaian ini juga menjadi pengingat bahwa kompetisi teknologi bukan sekadar ajang adu kode, tapi juga adu narasi dan adu relevansi. Tim yang sekadar membangun produk bagus tanpa cerita yang kuat sulit bersaing di panggung internasional, begitu pula sebaliknya. Keseimbangan antara kemampuan teknis, pemahaman masalah, dan kemampuan komunikasi menjadi kunci di format PROXOCORIS yang membagi penilaian secara independen antara submission dan pitching. Subak Hijau kini tersedia untuk diakses publik di subakhijau.app, dan perjalanan Tim Subak Code dari ITB STIKOM Bali ini layak diikuti untuk melihat sejauh mana teknologi yang berakar pada nilai lokal bisa bergerak di kancah global!